Thursday, October 22, 2009

Menkes Baru Pernah Kasus






JAKARTA – Nama Endang Rahayu Setyaningsih yang diumumkan sebagai Menteri Kesehatan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Rabu (21/10) malam, mengejutkan beberapa pihak. Terutama Siti Fadilah Supari yang masih menjabat Menkes sampai pelantikan Kabinet Indonesia Bersatu II, Kamis (22/10) siang ini.

’’Semua juga kaget, kok bisa dia. Dia itu eselon II dan tak punya jabatan,’’ ujarnya di stasiun tvOne di Jakarta, Rabu (21/10) malam. Sebelum dipercaya menjadi Menkes, Endang Rahayu Setyaningsih adalah direktur Pusat Riset dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Departemen Kesehatan sejak Februari 2007.

Siti Fadilah menambahkan, Endang adalah mantan pegawai Navy Medical Research Unit II (Namru-2), sebuah unit kesehatan Angkatan Laut AS di Indonesia untuk mengadakan penelitian penyakit menular yang berkantor di kompleks Depkes Jakarta. ’’Dia (Endang) mantan pegawai Namru dan sekarang ini tidak mempunyai jabatan khusus. Sebagai peneliti biasa,’’ ujar Siti Fadilah.

Siti Fadilah juga menyebut Endang Rahayu pernah membawa specimen H5N1 (virus flu burung) ke luar negeri tanpa sepengetahuan Depkes. ’’Ada beberapa virus H5N1 dibawa ke Hanoi tanpa sepengetahuan siapa pun. Setelah ketahuan, dia minta maaf dan sudah saya maafkan. Tapi, dia saya pindah (dimutasi) tidak menangani virus lagi,’’ jelasnya.

Siti Fadilah tidak menjelaskan tempat di Hanoi yang dituju Endang dengan specimen H5N1 yang dibawanya. Dia hanya mengatakan, ketahuannya aksi Endang itu secara tidak sengaja. ’’Ketahuannya pun tidak sengaja,’’ ujarnya. Dia menambahkan, Endang Rahayu paling dekat dengan Namru-2 di antara semua pegawai Depkes. ’’Dia leluasa keluar masuk Namru-2,’’ katanya.

Menkes Siti Fadilah memang melarang semua rumah sakit di Indonesia mengirimkan sampel virus flu burung ke laboratorium Namru-2. Sebab, kontrak kerjasama dengan Namru telah berakhir sejak Desember 2005.

Catatan Surabayaa Post, saat kasus ini mencuat, pengamat intelijen, LSM, dan DPR mencurigai Namru-2 di Indonesia menjadi sarana kegiatan intelijen AS dengan berkedok riset. Untuk membantah hal itu, pihak AS saat itu mengundang anggota Komisi I DPR (membidangi luar negeri) ke Lab Namru-2 di kompleks Depkes Jakarta.

Akhirnya pada 16 Oktober 2009 pemerintah secara resmi menghentikan kerjasama dengan Namru-2, ditandai dengan pengiriman surat Menkes Siti Fadilah Supari kepada Dubes AS Cameron Hume. Surat bernomor 919/Menkes/X/2009 itu juga ditembuskan kepada Menteri Luar Negeri, Menteri Pertahanan, Menko Kesra, dan Mensesneg.

Penghentian kerjasama dengan Namru-2 itu didokumentasikan dalam buku Siti Fadilah Supari berjudul ’’Saatnya Dunia Berubah’’. Dalam buku itu, Siti Fadilah juga menyoroti WHO dan negara asing lainnya memanfaatkan sampel virus flu burung Indonesia untuk dibuat vaksin, yang selanjutnya dijual ke Indonesia dengan harga mahal.



Endang Membantah

Pernyataan Siti Fadilah Supari bahwa Endang membawa specimen H5N1 ke Hanoi membuat gerah Menkes baru tersebut. Endang pun menggelar konferensi pers di rumahnya pagi tadi, apalagi pasca pernyataan Siti Fadilah berkembang isu bahwa dia menjual specimen virus flu burung ke luar negeri.

’’Apakah saya menjual specimen, tidak benar. Saya tidak menjual specimen,’’ tutur Endang di rumahnya, Jalan Pendidikan Raya III, Blok JJ 55 Kompleks IKIP Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (22/10). Namun, Endang tak menjelaskan duduk perkaranya.

Endang juga membantah pernah meminta maaf kepada Menkes Siti Fadilah Supari yang sebelumnya jadi atasannya di Depkes. ’’Tidak benar,’’ ujarnya tanpa menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi.

Pada bagian lain, Endang menceritakan ketidakpercayaannya saat mendapat telepon dari Sudi Silalahi. Dia ditelepon saat rapat di Hotel Horizon, Bekasi. ’’Tiba-tiba ada yang telepon, nomornya aneh, dia bilang Pak Sudi Silalahi. Pak Sudi bilang, ’Bu, Ibu tolong ke Cikeas sekarang dipanggil Bapak’,’’ tuturnya.

Endang tak pernah mengira, maka dia pun sempat setengah tak percaya. ’’Saya bukan orang penting. Saya pikir ini serius atau acara salah sambung?’’ tambah dia.

Tak sempat memanggil supirnya dia terpaksa naik taksi ke Cikeas. ’’Saya nggak sempat pakai sopir, langsung ke sana. Saya tidak pernah ke Cikeas, jadi sempat nyasar. Di Cikeas, sudah ada tim RSPAD Gatot Soebroto, saya menjalani psikotes 500 pertanyaan dan tew wawancara, saya lalu dipanggil presiden dan Wapres,’’ tambah dia.

Endang memang tidak dipanggil bersama-sama calon menteri dan pejabat tinggi lainnya dalam audisi di Cikeas. Endang muncul tiba-tiba di Cikeas didampingi Jubir Andi Mallarangeng –yang kini menjadi Menneg Pemuda dan Olahraga– pada Rabu (21/10) pukul 18.30 WIB kemarin, atau tiga setengah jam sebelum pengumuman Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II.

Ditanya siapa yang mengusulkan namanya jadi calon Menkes, Endang mengaku tidak tahu. ’’Saya nggak tahu, kalau Anda tahu, kasih tahu saya,’’ ujarnya.



Peneliti Penyakit Sekual

Ditanya apa fokus penelitian yang pernah di kerjakan, Endang mantap menjawab penyakit seksual menular. ’’Dalam penelitian, saya lebih fokus dalam penyakit seksual menular atau yang lebih disebut epidemologi sosial,’’ ujarnya.

Endang mengaku penelitiannya fokus pada penyakit AIDS, bahkan dia punya buku soal penelitiannya itu. ’’Saya juga pernah menulis buku tentang perempuan-perempuan di Kramat Tunggak,’’ kata dia.

Demi menulis buku itu, Endang berkali-kali meneliti perempuan -perempuan di Kramat Tunggak, kawasan lokalisasi paling besar di Jakarta Utara. Dia meneliti penyakit menular yang berkembang di sana. Hasil penelitian itu diramu dalam sebuah buku.

Penelitian dan menulis tentang perempuan-perempuan di Kramat Tunggak itu menyebabkan Endang memahami betul bahaya penyakit menular. Dia juga tekun meneliti obat yang tepat untuk berbagai penyakit itu.

Walau mendalami penyakit seksual, Endang berjanji bahwa setelah jadi menteri dia juga akan fokus ke penyakit menular lain seperti H5N1 (flu burung) , H1N1 (flu babi), AIDS, dan SARS,’’ tambah dia.

Endang juga mengatakan akan memprioritaskan pencapaian Millenium Development Goal (MDG). ’’Yakni menekan angka kematian ibu dan balita gizi buruk,’’ Dia juga berjanji jadi menteri yang prorakyat. ’’Saya akan terus mendorong kesehatan yang prorakyat,’’ kata dia.

"Ditambah lagi Indonesia rawan dengan bencana," tambah Endang. Karena itu, sebagai Menkes, dia juga berjanji akan meningkatkan kesiapsiagaan rumah sakit dan Puskesmas. ’’Dan antisipasi terhadap penyakit menular, problem utama di negara berkembang,’’ uarainya.

Untuk mencapai tujuannya, Endang mengaku tak bisa sendirian. ’’Harus bekerjasama dengan pihak Internasional. Itu yang Pak SBY bilang,’’ tambah dia.

Ketika menjabat menteri, Endang akan memiliki bawahan yang sebelumnya justru menjadi senior-seniornya di Depkes. Namun, dia justru senang. ’’Kebetulan saya bisa nanya banyak, banyak bimbingan. Kalau dengan orang-orang yang lebih muda saya malah repot.’’

Terkait informasi kedekatannya dengan Namru-2, Endang mengakuinya. ’’Dekat dengan Namru, betul,’’ ujarnya. Endang mengaku dekat dengan banyak orang. Selain Namru, dia juga mengaku dekat dengan Jepang dan Belanda, sebagai peneliti.

Apakah Endang lebih dekat dengan Namru daripada dengan Siti Fadilah Supari? ’’Kalau saya bilang dekat dengan ibu (Siti Fadilah), nanti saya dibilang sombong. Ibu kan menteri," kata Endang.



Biografi Singkat

Endang adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1979). Setelah lulus strata 1 di FK UI, Endang meneruskan gelar master dengan spesialisasi Kesehatan Publik. Endang pun lulus dengan gelar Master of Public Health, pada Juni 1992 dari Harvard School of Public Health, Boston, Amerika Serikat.

Di tempat kuliahnya, Endang melanjutkan studinya. Pada Maret 1997, Endang pun mendapat gelar Doctor of Public Health, dari tempat yang sama, Harvard School of Public Health.

Selepas kuliah di FKUI, Endang sempat bekerja di Rumah Sakit Pertamina Jakarta, pada 1979-1980. Kemudian, pada 1980-1983, Endang berangkat ke Nusa Tenggara Timur. Di lokasi ini, Endang menjabat Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Waipare, NTT.

Lalu, dia berlanjut tugas kembali ke Jakarta. Endang dipercaya bertugas di Dinas Kesehatan Provinsi DKI pada 1983-1997. Tidak hanya di level lokal dan Tanah Air, karir Endang juga terbilang gemilang di kancah dunia.

Di Badan Kesehatan Dunia (WHO), Endang memegang peran penting. Dia menjabat penasihat teknis pada Departemen Penyebaran Penyakit dan Respons di Geneva, Swiss, tahun 1997-2006.

Karir Endang terus moncer, hingga menjadi koordinator riset Avian Influensa tahun 2006. Kini, Endang menjabat Direktur Pusat Riset dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Departemen Kesehatan sejak Februari 2007, sebelum akhirnya diangkat menjadi Menteri Kesehatan.

3 comments:

Munir Ardi said...

begitulah mas kekuasaan nggak bisa ditebak

albertus goentoer tjahjadi said...

saya pikir kita tetap harus memberi kesempatan mas bagaimanapun masa lalunya ato track recordnya... kalau dia memang menunjukkan perbaikan yang positif untuk rakyat tentu harus didukung namun jika sebaliknya yang terjadi ya sebaiknya dilengserkan saja... setuju???

Pasang Iklan said...

waduh...waduh..
masa baru saja menjabat sebagai menkes sudah ada masalah sih...
menkes yang baru ini disebut2 membawa vaksin flu burung keluar negeri..
sehingga menkes pada waktu itu memutasi endang kebidang yang tidak mengurusi virus dan sebaginya...

apakah motif dibalik pemilihan menkes yang baru oleh bapak eSBeYe???
semoga saja bapak eSBeYe tidak salah memilih....
Iklan

Post a Comment

Terima kasih atas komentar teman-teman buat blog belajar ini...

PageRank 100 Blog Indonesia Terbaik
Widget edited by kanigoropagelaran
top