Sunday, September 13, 2009

Facebook dan Twitter Calon Penerima Nobel Perdamaian




Sebuah tweets atau pesan di Twitter masuk dari seseorang di Moldova di tengah hari yang diwarnai berbagai bentrokan antara petugas keamanan melawan demonstran anti rezim komunis yang berkuasa itu.

"TV di Moldova Utara mati. Untunglah kita punya INTERNET YANG MAHAKUASA! Mari memaksimalkannya untuk berkomunikasi secara damai untuk mencapai kebebasan," tulisnya.

Beberapa detik berselang, puluhan tweets bergantian masuk. Ada yang mengeluhkan bos di kantor yang melarang turun berdemonstrasi, ada pula yang menyampaikan pesan damai dan tuntutan perubahan rezim yang dianggap telah bertindak curang dalam pemilu.

Yang pasti, dari tweets demi tweets itulah dunia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di negeri termiskin di Eropa itu saat media asing kesulitan menembus. Dari spirit yang terus digelorakan secara online lewat Twitter atau Facebook itu jugalah, ribuan demonstran, kebanyakan anak-anak muda, tak pernah kehabisan energi menentang penguasa Moldova sepanjang April lalu.

"Hanya enam orang dari kami yang mengorganisasikan semuanya lewat internet. Hasilnya, 15 ribu orang sekaligus turun ke jalan," kata Natalia Morar, jurnalis dan salah satu pentolan kelompok pemuda yang menggerakkan demonstrasi di Moldova, kepada harian Inggris The Independent.

Sebulan kemudian giliran Iran yang diguncang demonstrasi serupa kala ratusan ribu pendukung kandidat presiden yang kalah, Mir Hossein Mousavi, juga menggugat hasil pemilu. Pemerintahan Mahmoud Ahmadinejad menyikapi aksi itu dengan keras. Misili paramiliter Basij diterjunkan, korban jiwa pun berjatuhan.

Karena media asing diblokir, kelompok antipemerintah pun memanfaatkan Facebook, Twitter, dan berbagai blog tak hanya untuk menggalang dukungan, tapi juga untuk mewartakan apa yang terjadi di Negeri Mullah itu. Di saat media konvensional berkelas raksasa macam CNN dan BBC tak berdaya, Facebook dan Twitter justru menjadi jendela bagi dunia untuk menyaksikan berkecamuknya harapan, heroisme, dan horor di Iran.

Dunia pun langsung sepakat: apa yang terjadi di Moldova, Iran, dan Venezuela di awal bulan ini saat puluhan ribu massa memprotes undang-undang pendidikan baru ala Hugo Chavez adalah penanda lahirnya "Revolusi Facebook" atau "Revolusi Twitter." Inilah fenomena yang mematahkan nubuat Mao Tse Tung yang terkenal itu: kekuasaan hanya lahir dari ujung bedil.

"Iran dan Moldova adalah contoh nyata ketika piranti jejaring sosial menjadi senjata ampuh untuk menggerakan massa dalam waktu singkat," urai Noam Cohen, kolomnis Link by Link pada The New York Times.

Tak cuma ampuh untuk menentang penguasa, Facebook dan Twitter juga bisa berjasa besar mendudukkan seseorang di pucuk kekuasaan. Barack Obama adalah contoh paling terkenal. Kemenangannya atas John McCain di pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) pada November 2008 lalu tak lepas dari agresivitasnya memperkenalkan diri kepada anak-anak muda lewat jejaring sosial. Fakta mencatat, di antara pemilih berusia 18-29 tahun, Obama unggul 2:1 atas McCain.

Taktik Obama itu lalu ditiru di mana-mana. Misalnya, Benjamin Netanyahu pada pemilu Israel Februari lalu. Atau juga Indonesia. Latah? Mungkin, tapi itu wajar. "Karena, di era sekarang, ada kampanye dengan cara yang biasa dan ada pula kampanye lain secara online yang dinamikanya sangat berbeda," kata Morley Winograd, penulis buku Millennial Makeover: MySpace, YouTube and the Future of American Politics.

Revolusi Facebook juga menerobos beberapa bidang lain. Di Australia, jejaring sosial yang mulai diluncurkan lima tahun silam itu resmi menjadi protokol legal di persidangan. Maret lalu, tetangga Negeri Kanguru itu, Selandia Baru, malah telah mempraktekkan aturan serupa.

Sedemikian besarnya revolusi yang dihadirkan Facebook dan Twitter, tak heran kalau Mark Pfeifle, deputi penasihat keamanan nasional pada National Security Council AS, mengusulkan jejaring sosial itu sebagai kandidat penerima Nobel Perdamaian. "Twitter adalah megafon dari suatu tuntutan perubahan

3 comments:

anak nelayan said...

fb emang layak dapet nobel yaa

Rihar Diana(dhana) said...

ass..wr.wb
ehm......sampai segitu ya..wah kudu pinter pinter used-nya tuh.....he..he...apik rek...berkarya terus buat Anda..thnxs..

VB6MANIA said...

met kenal aja..
bagi yg pengen belajar program dan jaringan bisa mampir ke
VB6MANIA

Post a Comment

Terima kasih atas komentar teman-teman buat blog belajar ini...

PageRank 100 Blog Indonesia Terbaik
Widget edited by kanigoropagelaran
top