Tuesday, April 21, 2009

Prostitusi di Sulawesi Utara Bagaian 2 Habis



GURAUAN ''3B" ketika berkunjung di Manado ternyata masih dibilang kurang lengkap. Ada beberapa pembaca yang mengirimkan surat dan pesan bahwa sekarang ini sudah harus menikmati ''5B" ketika berkunjung ke kota yang indah di pucuk utara Pulau Sulawesi tersebut.


Selain Bunaken, Bubur, dan Bibir, masih ada Boulevard, jalan paling terkenal di Manado saat ini. Sedangkan ''B" yang kelima, maaf, mungkin kurang sopan kalau ditulis gamblang di koran karena menyangkut bagian tubuh di belakang.

Yang jelas awalannya memang ''B", akhirannya ''ng", dengan dua huruf ''o" mengimpit huruf ''k" di tengah.

Sebenarnya ada juga yang bilang sekarang sudah ''7B", tapi kayaknya kalau itu sudah terlalu mengada-ada.

Dalam dua hari terakhir, besarnya masalah trafficking sudah mendapat perhatian begitu besar dalam laporan khusus ini. Untuk seri ketiga dan penutup ini, perhatian bergeser langsung ke urusan prostitusi di Manado. Sebab, kondisinya memang agak ironis bila dibandingkan dengan daerah lain.

Kalau di kota-kota lain seperti Jakarta dan Surabaya, ada daerah lokalisasi resmi atau kawasan ''lampu merah" yang jelas. Dan untuk kota seperti di Jakarta, ''Bibir Manado" tidak memerlukan pencarian rumit. Tinggal ke tempat-tempat yang sudah dikenal masyarakat itu saja.

Nah, kalau di Manado, ternyata lebih gampang-gampang susah. Tidak ada lokalisasi resmi di Manado. Tidak ada tempat penampungan khusus atau rumah yang menyediakan jasa layanan tersebut. Semuanya harus ''dieksekusi" di hotel.

Singkatnya, harus ada perantara atau orang dalam yang ''membimbing" untuk mendapatkan servis ekstra. Orang yang baru kali pertama datang dijamin pasti akan mengalami kesulitan untuk langsung mendapatkannya.

Paling mudah para tambio (tampang biongok, sebutan orang Manado untuk para ''perempuan eksperimen") dicari di Boulevard, jalan utama Manado di pinggir pantai yang juga menjadi tempat nongkrong anak muda.

Polanya persis dengan di Jalan Panglima Sudirman di Surabaya. Ada joki, ada perantaranya juga. Menariknya, alih-alih menggunakan sepeda motor (seperti di Surabaya), para joki tambio tersebut menggunakan mobil. Ada tiga sampai empat perempuan yang ada di dalam. Persis dengan ''showroom" yang berjalan.

''Rantai jaringannya" kira-kira seperti ini. Para tamu tinggal berjalan pelan menyusuri Boulevard. Lalu ada seorang perantara yang menawarkan dan kemudian memperlihatkan isi ''showroom mobile" tersebut. Bila cocok, transaksi berlanjut.

Di tempat itu, kelasnya adalah menengah ke bawah. Tarifnya antara Rp 350 ribu hingga Rp 1 juta untuk kencan short time. Pencarian model seperti itu adalah untuk model pencarian yang paling gampang karena relatif terbuka.

Ada lagi model pencarian lain. Yakni, menggunakan jasa para pria kemayu. Biasanya, para pria kemayu itu mempunyai stok wanita kelas atas, yang tarif kencannya berharga antara Rp 1,5 juta-Rp 2,5 juta. Ya, para pria kemayu itu merangkap juga sebagai germo (GM) dengan sistem yang lebih terbuka dengan ''anak buahnya". Tiap ada kencan, para pria kemayu itu mendapat uang persentase -biasanya berkisar 15-20 persen- dari setiap transaksi.

Mungkin GM yang paling terkenal dan jaringannya paling luas di Manado adalah Fendri (bukan nama sebenarnya). Lobi Fendri sangat luas karena dia memang punya karir yang mendukung. Sejak beberapa tahun lalu, Fendri beberapa kali menjadi GRO (guest relations officer) di sebuah tempat dugem di berbagai kota. Mulai Surabaya, Bali, Jogjakarta, hingga terakhir kembali di Manado.

Sekarang jabatannya keren. Yakni, manager marketing dan event sebuah tempat dugem besar di Manado.

Dengan jaringan seperti itu, Fendri tak kesulitan mendapatkan tamu-tamu eksklusif untuk anak-anak buahnya. Dari mana mendapatkan anak buah? ''Ya, yang biasa nongkrong di tempat saya,'' tutur pria yang menggunakan inisial sebuah artis barat sebagai nickname-nya.

Fendri mengaku tak sulit untuk mendapatkan anak buah. ''Banyak sekali perempuan cantik di sini yang frustrasi dan sudah telanjur menganut pergaulan tidak jelas,'' ucapnya. ''Daripada rusak berhubungan dengan lekong (pria, Red) atas nama cinta yang tak jelas, mending sekalian dikomersialkan saja. Andika (Anda) bisa paham, kan, maksud akika (saya)?'' tambahnya.

Di antara total 15 perempuan yang menjadi ''stok tetap" Fendri, 12 tergolong yang frustrasi itu. Ada yang ditinggal suami, ada yang kesuciannya terenggut pacar tak bertanggung jawab, dan sejumlah problem hidup klasik lain.

Ketika bertemu dengan perempuan seperti itu, Fendri mengaku awalnya mencoba memberikan saran yang ''benar". Tapi kalau sudah punya keinginan dapat uang, ya dia memberikan jalan ''alternatif". Yang penting siap dengan konsekuensinya.

Fendri mengaku jalan hidupnya tak selalu lancar. Dia sempat berurusan dengan polandia (polisi, Red). ''Pernah sehari dibawa ke kantor polandia. Tapi kemudian dilepas lagi,'' ucapnya. Fendri mengaku dilepas karena memang tak terbukti unsur trafficking-nya. ''Tapi belakangan, polandia-polandia itu ujung-ujungnya minta cewek juga untuk meong (main seks, Red),'' ucapnya.

Fendri pernah tersandung kasus polisi karena tak jarang memasarkan para gadis -baik dari kota maupun desa- hingga Jakarta. Namun, untuk yang satu ini, Fendri mengaku sangat berhati-hati.

''Saya tanyai berulang-ulang dan saya rekam. Biar tidak ada unsur trafficking-nya. Biar ada bukti kalau ada apa-apa,'' tandasnya. Fendri mengatakan dalam konteks dunianya, situasi tidak segamblang hitam di atas putih. ''Karena kadang-kadang anaknya sendiri yang datang,'' urainya.

Untuk menerima seorang perempuan menjadi anak buah, patokan Fendri jelas. ''Saya akan tanyai dulu. Yang penting jangan ada unsur keterpaksaan,'' tandasnya.

Menurut dia, di situlah letak perbedaan antara prostitusi dan trafficking. Sama-sama mendatangkan uang dengan komoditas perempuan, yang satu dengan sukarela (prostitusi), sedangkan yang satunya lagi karena ''terpaksa" (bisa tertipu dan sebagainya).

Fendri mengaku tak pernah risi disebut sebagai GM paling terkenal. ''Se-Manado siapa yang tidak kenal akika,'' ucapnya dengan nada genit menyombongkan diri.

Sambilan menjadi germo ternyata mendatangkan hasil yang lumayan. Saat menjadi GRO di tempat dugem, Fendri mengaku bergaji Rp 2 juta per bulan. Namun, penghasilan tambahan dari ''mempertemukan" si pencari dan yang dicari bisa jauh lebih tinggi. ''Sekitar Rp 10 juta. Lumayanlah tambahannya. Ya gini ini kalau mencari tambahan sepelong, dua pelong (sepuluh ribu, dua puluh ribu, Red),'' ucapnya, kemudian tertawa.

Bila Fendri mendapat penghasilan yang lumayan, begitu pula dengan para perempuan binaannya. Contohnya, Maya (nama samaran, Red). Sebagai seorang gadis panggilan high class, penampilan dan tongkrongannya bisa membuat minder para pria yang hendak menggunakan ''jasanya".

Betapa tidak, sehari-hari sebuah sedan Ford Focus hitam (lengkap dengan peralatan audio video paling anyar) selalu menemani gadis 23 tahun itu ke mana-mana.

Fendri menyebutkan bahwa hampir semua anak buahnya kini mengendarai mobil. ''Sudah cukupan lah. Punya rumah dan mobil,'' katanya, kemudian nyengir.

Untuk menentukan harga, patokan yang diambil di Manado sama saja dengan daerah-daerah lain. Selain faktor usia dan kecantikan, status juga menentukan. Seorang tambio berstatus mahasiswi minimal dihargai Rp 750 ribu. Mahasiswi memang menjadi primadona. Karena tak terlalu muda untuk soal pengalaman, tapi tak terlalu tua untuk menjadi teman kencan.

Namun, ada satu persamaan antara kelas menengah dan kelas atas. Kita tak bisa begitu saja memperlakukan mereka dengan model ''Juaji (pelayanan tak memuaskan) kembalikan ke germonya".

Mereka rata-rata harus diperlakukan dengan model seperti pacaran dulu. ''Karena begitu tak suka sedikit saja, ada saja perlakuan mereka yang bisa membuat kesal. Lalu kencan pun batal. Mereka (para tambio, Red) lebih suka hanya mendapat uang taksi bila sudah tak feeling,'' jelas Fendri.

Begitu pula bila berburu di kawasan pedalaman (kabupaten-kabupaten di sekeliling Manado). Kendati relatif lebih mudah ''diiming-iming" untuk jalan-jalan ke Manado dan belanja, tetap saja para gadis di itu meminta perlakuan seperti pacaran.

Di kawasan pedalaman, tipe-tipe yang ''bayar dan dapatkan" sangat terbatas. ''Yang lebih sering adalah model berpacaran, diajak jalan-jalan dan shopping ke Manado,'' tutur Fendri.

Gadis-gadis itu memang tak suka dengan istilah PSK. Mereka lebih suka dibilang melakoni ''pacaran yang menghasilkan".

***

Di bagian lain, polisi tak bisa berbuat banyak terhadap maraknya prostitusi dengan model ''tertutup tapi terbuka" (tertutup karena tak pernah ada tempat resmi, terbuka karena nyatanya tak terlalu sulit untuk mendapatkannya). Sebab, memang tak ada pasal yang bisa dijeratkan terhadap prostitusi.

''Kami hanya bisa mengawasi dan memantau. Bagaimana memidanakan sebuah transaksi yang suka sama suka. Siapa yang akan melaporkan?'' ucap Direskrim Polda Sulut Kombes Pol Remedius Sigit Triharjanto, dengan nada tanya.

Namun, bukan berarti polisi diam saja. Sigit mengatakan, pihaknya tetap memantau secara maksimal karena maraknya prostitusi selalu dekat dengan trafficking atau eksploitasi anak. ''Batasnya tipis sekali,'' ucap perwira dengan tiga mawar di pundak itu.

Batas-batas tersebut adalah tidak menggermokan anak di bawah umur (di bawah 18 tahun) serta tidak ada unsur tipu dayanya (yang merupakan salah satu unsur terpenting dalam pidana trafficking). ''Bila ada yang melewati batas-batas itu, kami pasti akan menindaknya,'' ucap mantan Kasatreskrim Polwiltabes Surabaya itu.

Sigit menilai, trafficking dan prostitusi pada dasarnya adalah semacam ekses dari sebuah situasi. ''Yang memegang peran penting adalah pemerintah daerah dan segenap masyarakat. Kami ini hanya berwenang dalam hal penindakan,'' ucapnya.

Bagi Sigit, yang paling penting adalah penyiapan kesempatan dan pengondisian sebuah masyarakat untuk para korban dan calon korban trafficking. ''Saya yakin bila para gadis itu mendapat kesempatan untuk berekspresi dan memperoleh pendapatan dengan cara benar, 90 persen trafficking akan habis sendiri,'' urainya.

Sigit mengatakan percuma saja polisi terus-menerus melakukan penindakan, namun setelah dikembalikan, tak ada kesempatan kerja yang lebih baik. Akibatnya, para gadis tersebut kembali terjerat trafficking. ''Seperti main ular tangga saja kalau begitu,'' tandasnya
PageRank 100 Blog Indonesia Terbaik
Widget edited by kanigoropagelaran
top